Gempa M7,7 Guncang Nagekeo NTT: 38 Nyawa Melayang, Warga Berlarian di Kegelapan Subuh, Ribuan Mengungsi

Subuh itu, tidur lelap warga Nagekeo, NTT, terenggut paksa oleh guncangan gempa M7,7. Mereka berlarian dalam gelap menuju dataran tinggi, sebagian menggendong lansia dan anak-anak — dan hingga Sabtu sore, BNPB memastikan 38 orang telah kehilangan nyawa, sementara ribuan lainnya kini tidur beratapkan langit di pengungsian.

Gempa M7,7 Guncang Nagekeo NTT: 38 Nyawa Melayang, Warga Berlarian di Kegelapan Subuh, Ribuan Mengungsi

Mira (45) masih terlelap ketika ranjangnya tiba-tiba berguncang hebat, Sabtu (15/8/2026) pukul 05.58 WITA. Dalam sepersekian detik, ia membangunkan anak-anaknya dan berteriak sekuat tenaga, "Gempa, gempa, gempa!" Mereka berlari keluar rumah tanpa sempat berpikir panjang, takut atap dan dinding runtuh menimpa. Di sepanjang jalan menuju dataran yang lebih tinggi, mata Mira menangkap pemandangan yang tak akan mudah ia lupakan: lima hingga enam rumah tetangganya sudah rata dengan reruntuhan, sementara jendela rumahnya sendiri pecah berantakan. "Goyangnya ngeri punya," katanya kepada Kompas.com, mengenang detik-detik yang mengubah pagi tenang di Mbay, Kabupaten Nagekeo, menjadi kepanikan massal.

Gempa bumi tektonik bermagnitudo 7,7 itu berpusat sekitar 30 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada kedalaman 15 kilometer. Guncangannya terasa lama dan kuat — salah seorang warga, Hildegard "Hilda" Lengu, menuturkan kepada Kompas.com bahwa lantai rumahnya bergetar selama sekitar dua menit, cukup lama untuk membuat pohon dan kendaraan bergoyang liar di jalanan. "Kami ngungsi, lari sendiri, mengevakuasi mandiri," ujarnya. Dalam kepanikan itu, ia melihat sendiri lansia yang harus dievakuasi memakai kursi roda, dan sebagian warga lain yang tak sanggup berjalan terpaksa dipapah oleh sesama pengungsi menuju tempat yang lebih aman.

Tak semua warga seberuntung Mira yang bisa langsung berlari keluar. Samsul, warga lain yang rumahnya rusak parah, menceritakan detik-detik menegangkan saat lantai rumahnya mendadak terbelah di hadapannya. "Rumah ada terbelah di lantai tadi, saya hanya lihat lantai sudah mulai terbelah, saya tidak lihat lagi, langsung saya lari," katanya kepada Kompas.com. Dalam pelariannya, ia menyaksikan tiang-tiang listrik tumbang dan tembok rumah warga runtuh di kiri-kanan jalan. Di Kabupaten Sikka, Daniel Jie (41) mengalami momen yang tak kalah mencekam — ia terjebak di lantai dua rumahnya saat guncangan berlangsung, terlalu takut untuk turun karena khawatir tangga dan lantai runtuh menimpanya. Dalam ketakutan itu, ia mengaku sempat pasrah menunggu guncangan berhenti, tak tahu apakah akan selamat atau tidak.

Karena kedalaman dan kekuatannya, gempa ini berpotensi memicu tsunami. BMKG langsung mengeluarkan peringatan dini tsunami untuk pesisir utara Flores dan sekitarnya, memerintahkan warga segera menjauh dari bibir pantai. Di tengah kegelapan subuh yang belum sepenuhnya terang, ribuan orang berbondong-bondong meninggalkan rumah — setidaknya 2.000 warga Kabupaten Nagekeo tercatat melakukan evakuasi mandiri ke dataran tinggi, sebagian besar hanya membawa apa yang sempat mereka genggam. Warga di kawasan pesisir Sape, Kabupaten Bima, NTB, turut mengungsi ramai-ramai begitu peringatan tsunami menyebar. BMKG baru mencabut peringatan tersebut setelah memantau tidak ada kenaikan muka air laut yang signifikan di sejumlah titik pengamatan — namun bagi warga yang sempat berlari dalam kepanikan menembus dini hari, rasa waswas itu tak serta-merta hilang begitu sirene usai.

Getaran gempa ini bahkan dirasakan hingga Pulau Lombok, NTB, lebih dari 200 kilometer dari pusat gempa, membuat warga di Kota Mataram dan Kota Bima ikut berhamburan keluar rumah pada jam yang sama.

Angka korban terus bertambah seiring proses pencarian dan evakuasi berlangsung sepanjang hari. Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto mengumumkan, berdasarkan data yang dihimpun hingga pukul 15.00 WIB Sabtu sore, sebanyak 38 orang dinyatakan meninggal dunia akibat gempa ini, ditambah 2 orang luka berat dan 11 orang luka ringan. Salah satu korban yang teridentifikasi lebih awal adalah Meliana Nenong (54), perempuan yang tertimpa reruntuhan bangunan di kawasan Pelabuhan Lauren Say, Maumere. Puluhan rumah warga, sejumlah puskesmas, serta satu rumah sakit di Maumere turut mengalami kerusakan akibat guncangan. Pemerintah telah menyiapkan 50.000 paket sembako untuk memenuhi kebutuhan dasar warga terdampak. BNPB menegaskan data ini masih dapat terus berkembang seiring proses evakuasi oleh tim SAR gabungan yang belum sepenuhnya rampung; AutoMedia akan memperbarui angka resmi begitu rilis data terbaru diterbitkan, dan tidak akan menyebarkan angka yang belum dikonfirmasi demi menghormati keluarga korban dan mencegah kesimpangsiuran informasi.

Duka juga menyentuh sisi lain kehidupan warga NTT: sekitar 200 base transceiver station (BTS) di 10 kabupaten mengalami gangguan akibat gempa, memutus banyak keluarga dari kabar orang-orang terkasih di tengah kepanikan mencari selamat. Kabupaten Sikka menjadi wilayah dengan gangguan BTS terbanyak, disusul Ende dan Flores Timur. Sejumlah bangunan, termasuk fasilitas hotel di Labuan Bajo dan beberapa bangunan di Kota Bima, turut rusak, sementara penerbangan Wings Air dari dan menuju Bandara Ende sempat dihentikan sementara.

Sejumlah warga lanjut usia yang sempat mengalami gempa besar Flores pada 1992 mengaku trauma lama mereka kembali terbayang begitu tanah bergetar hebat pagi itu. Pakar geologi dari Universitas Muhammadiyah, Aji Syailendra, menjelaskan gempa ini berasal dari sistem sesar naik busur belakang Flores (Flores Back-Arc Thrust) — jalur sesar aktif yang sama yang pernah memicu tsunami setinggi sekitar 26 meter di Maumere dan Pulau Babi pada 12 Desember 1992, menewaskan lebih dari 2.500 jiwa dalam salah satu bencana gempa-tsunami terburuk sepanjang sejarah Indonesia. Bagi generasi yang mengalami langsung tragedi itu, guncangan Sabtu pagi ini bukan sekadar berita — melainkan luka lama yang kembali terbuka.

Di tengah reruntuhan dan kepanikan, solidaritas warga tampak di sepanjang jalur evakuasi: mereka yang masih kuat berlari membantu memapah lansia dan anak-anak, berbagi kabar dari mulut ke mulut ketika jaringan telekomunikasi terputus. Pemerintah daerah bersama BNPB kini fokus pada asesmen dampak, pencarian korban, dan penyaluran bantuan darurat ke titik-titik pengungsian. AutoMedia mengajak pembaca untuk turut berempati dan membantu sesuai kemampuan melalui jalur bantuan resmi, sekaligus mengimbau masyarakat luas untuk selalu memverifikasi informasi kebencanaan melalui kanal resmi BMKG dan BNPB, serta tidak mudah terpengaruh oleh angka atau kabar yang belum terkonfirmasi di media sosial.

Artikel ini disusun berdasarkan topik yang sedang trending — baca liputan dari sumber asli.

Tentang Penulis
AI Konten AutoMedia
AI Konten AutoMedia

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Tulis Komentar

Beranda Bagikan